Sakit kepala ini menyerang dahsyat. Semua kenangan kembali berhamburan, berdesakan di sebuah kepala yang sudah penat dengan kehidupan sekarang “pergilah, aku tidak perlu masa lalu untuk membuat kepalaku semakin penat” usirku kepada memori-memori yang datang berhamburan tapi tidak tercegah.
Satu persatu kembali datang, berhimpitan. Seakan-akan kepalaku adalah sebuah mesin waktu, aku mengingat kembali kejadian itu, dimana aku menunggu deringan telefon genggamku untuk berbunyi, tapi telah berhari-hari telefon genggamku menjadi bisu. Tidak ada suara, tidak ada kabar dari seseorang yang kutunggu kabarnya. Seminggu berlalu, dan telefon genggamku berdering yang mengatakan aku mendapat sms. Aku membuka inbox dan benar saja, dari orang kesayangan. Tetapi isinya ingin membuatku memilih lebih baik telefon genggamku tetap bisu.
“kita sudahi saja. Ini tidak bekerja”
isi pesan itu singkat. Aku menjadi histeris, kubuang telefon genggamku jauh-jauh, tapi seperti seorang idiot aku merangkak untuk mendapatkan telefon genggamku lagi dan memencet angka-angka yang sudah kuhafal di luar kepalaku.
“Kenapa?”
hanya kata itu yang dapat keluar berbarengan dengan semburan air mata dan udara yang kurasa kian menipis di sekitarku.
“ini sudah tidak bekerja lagi. Maafkan aku. Lebih baik kita berpisah”
memang aku yang kepala batu aku tetap bertanya mengapa sampai akhirnya aku tetap tidak menemukan jawaban dari pertanyaanku itu. Aku lalu bertanya padanya
“kamu dimana ? saya kesana ya ?”
suara di seberang sana terdiam, tetapi dengan pasti menjawab
“aku sedang ada urusan. Kamu tidak perlu datang. ini masih masalah yang kemarin, aku masih menangani keluarga-keluarga yang kehilangan rumahnya karena akan dibangun tempat hiburan.”
Oh, aku tahu dimana kamu, sayang. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan membereskan semua barang-barangku. Saat itu aku sedang bekerja di kota lain, di kota yang tidak ramah dengan seorang perempuan yang merokok.
“saya pulang besok. Kita ketemu. Kamu bisa kan nyerahin masalah itu ke temanmu dulu ?”
suara di ujung sana tidak menjawab ramah,
“kamu tidak perlu datang. ini sudah keputusan akhir. Selamat tinggal”
dengan tidak menggubris kata-katanya, aku memesan tiket pesawat untuk pulang, berkelut lidah sebentar dengan sang keluarga disini dan disana, mengatakan betapa pentingnya masalah yang kuhadapi, sehingga aku harus pulang. Tapi aku tidak mengatakan masalah sebenarnya apa.
Aku sampai di airport ibukota dan melihat ayahku sudah menunggu. Aku tidak mengatakan mengapa aku pulang, aku hanya mengatakan aku tidak betah.
Malam harinya, ia kutelfon tidak menjawab. Panggilanku terus dibuang. Berkali-kali sampai rasanya ibu jariku kelelahan dan tertidur di atas keypad handphone. Aku berinisiatif untuk memeriksa daftar telefon di telefon genggamku yang banyak nomor teman-temannya. Aku bertanya pada seorang temannya dimana dia tinggal dan dia sedang ada di mana. Aku mendapat jawaban hangat, dia tidak tahu apa yang terjadi di antara kami, makanya ia dapat memberikanku sebuah alamat dan bagaimana cara ke sana, dan memberikanku satu nomor telefon lagi. Nomor telefon seseorang yang orang kesayanganku tinggal di tempatnya.
Keesokan harinya dengan tidak tertidur, aku berangkat pagi-pagi dari rumah, membawa baju-bajunya dan barang-barangnya, yang misalkan hubungan kami tidak dapat diteruskan, akan kukembalikan padanya, karena aku tidak ingin ada apapun yang berhubungan dengannya yang masih ada di tempatku.
Mandi ala kadarnya, mata bengkak, aku menghadapi ibukota jakarta yang kejam. Karena aku tidak pernah membutuhkan sesuatu yang jauh dari rumah, ini pertama kaliku menjelajah kota ini sendirian. Selalu ada orang di sampingku yang menuntunku kemana dan kemana dan seterusnya. Kali ini aku sendirian. Tidak ada seorangpun.
Aku sampai di terminal tempat kami biasa menghabiskan waktu sehabis aku pulang kuliah, aku mencari bayangannya, tapi tidak kutemukan. Lalu aku menuju ke halte yang bus-nya akan mengantarku untuk menuju ke satu-satunya tempat yang kemungkinan dia ada disana. Hujan saat itu mengguyur kota jakarta. Aku mengenakan jaket-ku yang telah kusiapkan dari rumah karena hari ini terlihat mendung. Aku bertanya pada seorang ibu di sebelah tempat dudukku. Dia berkata untuk sampai ke tempat itu aku harus menggunakan beberapa angkutan lagi. Ah persetan berapa banyaknya, yang penting aku sampai.
Aku berhenti di terminal yang sekarang aku lupa namanya. Aku diberhentikan di sana karena katanya, untuk menuju tempat itu, aku harus singgah di terminal ini dulu. Tapi aku tetap tidak tahu harus menaiki angkutan yang mana. Aku menuju warung – sial, waktu seperti ini aku tidak membawa rokok. Aku juga tidak membawa korek api. Aku terlihat seperti anak muda yang baru belajar merokok pada sang penjaga warung. Aku membeli sebungkus rokok dan korek.
Aku lalu berteduh di bawah atap warteg. Ada bapak-bapak sedang berjongkok yang sedang kebingungan merogoh seluruh kantong yang ada di badannya. Aku mendekati bapak itu dan bertanya, apakah ia tahu, angkutan nomor berapa yang harus kuambil untuk sampai pada tempat itu. Ia melihatku merokok, dan ia meminjam korek, lalu memberi tahu aku harus menaiki angkutan nomor berapa dan bilang turun di mana kepada sang supir angkot. Aku berterimakasih banyak-banyak kepada bapak itu dan menerobos hujan. Belum 2 langkah, bapak itu berkata,”nanti saja, dek. Masih hujan deras” aku berkata,”tidak apa-apa, pak. Urusan penting soalnya”, bapak itu tersenyum dan berkata “hati-hati, dek. Bilang sama supirnya berhenti di rel kereta, lalu abis itu kamu ke arah kiri, nanti ada tembok besar, nah dibalik tembok besar dan panjang itu adalah kompleks yang adek cari” aku tersenyum dan menunduk dan berkata “terimakasih banyak, pak”
Aku mencari angkutan dengan nomor yang bapak itu sarankan, dan segera naik ke bangku depan, untuk jalan aman karena bisa berkomunikasi dengan sang supir secara langsung tanpa perlu berteriak. Karena aku terlalu takut untuk tersesat, aku kembali bertanya kepada sang supir bagaimana caranya ke tempat yang ingin kuhampiri. Dia menjelaskan persis seperti yang bapak di warteg jelaskan, tapi sekarang aku tidak harus meminta pada sang supir untuk berhenti, dia sudah tau dimana dia harus memberhentikanku.
Aku berjalan menembus rintik hujan. Persetan, persetan kalau aku sakit, persetan. Makiku dalam hati sambil mencari jalan masuk. Tapi aku tidak kunjung menemukan jalan masuk karena itu adalah komplek DPR. Aku menemukan sebuah warung. Aku tidak sadar kalau aku sudah sampai pada tahap dehidrasi, aku memesan teh botol. Tidak cukup membasahi kerongkonganku, aku memesan satu botol lagi. Dan bertanya pada sang penjaga warung bagaimana cara memasuki kompleks ini. Mereka bilang aku harus berjalan menyusuri tembok ini sampai 10 meter di depan ada celah kecil, nah dari situ aku harus masuk, lalu aku harus langsung ke arah kiri, menyusuri tembok lagi dan nanti ada jalan ke tengah. Aku menghabiskan batang rokokku lagi, dan kembali berterimakasih.
Aku kehilangan hitungan, berapa kali aku bertanya hari ini ? berapa kali aku dituntun orang hari ini ? berapa kali aku berterimakasih hari ini ? sampai akhirnya aku menemukan celah kecil. Ada sedikit keraguan di dalam hatiku. Lalu aku menerobos masuk dengan berkata pada diriku sendiri, persetan semua keraguan, tidak ada waktu untuk ragu, kalau ini memenuhi deskripsi apa yang dimaksud oleh orang warung tadi, inilah tempatnya. Kataku dalam hati. Dan aku memasuki kompleks itu, mengikuti anjuran penjaga2 warung tadi.
Sesampainya aku di tengah dari tempat yang sangat sangat asing itu, aku menelfon orang yang tinggal disana. Aku dituntun olehnya untuk kerumahnya, sampai pada akhirnya aku menemukan orang itu di tengah jalan dengan telefon. Aku mendekat ke arahnya, menjabat tangannya, dan memperkenalkan diriku dan maksud kedatanganku ke sini.
“wah, gue juga nggak tau dia dimana, dua hari yang lalu sih dia masih di kamal, ngurusin masalah keluarga kampung kamal itu. Nah, kemarin gue nggak pulang, gue baru tadi pagi pulang dan tas-nya dan barang-barangnya udah enggak ada”
jantungku seperti terhimpit oleh dua batu yang rasanya ukurannya lebih besar dari badanku. Aku disuguhi teh manis hangat, karena hari itu hujan atau memang pada dasarnya teh manis hangat adalah suguhan minuman yang normal di suguhkan pada saat tamu datang.
“oh gitu ya ? lo yakin, lo nggak tau dia dimana ?”
yang pasti aku yakin dia tahu dimana keberadaan orang yang kusayang itu, tapi pasti dia diminta untuk tidak memberitahuku.
“sori, gue enggak tau”
Sialan. Sialan. Sialan. Sialan. Sialan. Sialan. Sialan.
Dia seperti berusaha untuk menelfon orang kesayanganku, yang aku tidak tahu apa dia benar-benar berusaha menghubunginya atau ingin terlihat seperti itu di depanku.
“gue nelfon juga enggak diangkat. Sori, fel, gue nggak bisa bantu”
“oh, nggak papa. Hmm.. elo mau berangkat kerja kan ? gue cabut deh.”
“hmm.. sekalian aja yuk, gue pake motor.”
“oh, nggak papa. Gue udah tau cara keluarnya gimana kok.”
“yakin lo ? nggak papa lagi.”
“nggak, nggak papa. Yuk ya. Gue cabut”
“oh, oke. Nanti kalo gue dapet kabar dari eat, gue kasih tau deh.”
“makasih ya.”
Dan aku bersalaman kembali dengan orang yang kulupa namanya itu dan berpamitan dan berterimakasih atas semuanya. Teh hangat, waktunya, dan kesediaannya untuk menyambutku. The desperate girlfriend.
Sesaat aku membalik badan menjauhi orang itu, aku langsung menangis. Aku tidak perduli aku di tengah-tengah jalan sekalipun. Yang kurasakan hanyalah, ini benar-benar berakhir. Bajuku sudah kering, karena hujan sudah berhenti sesampainya aku di rumah orang itu. Dan sekarang hujan kembali mengguyur. Aku berteduh di tempat yang mungkin adalah sebuah pos, yang tidak jauh dari rumah orang itu. karena terdapat meja pingpong di dalamnya. Hujan semakin deras. Aku juga menjadi semakin histeris. Aku menelefon ibu dari orang kesayanganku itu, yang terus mengatakan bahwa aku harus tenang, bahwa dia juga membantuku untuk menghubungi orang kesayanganku itu. dia berkata aku harus pulang, biar ia yang berurusan dengan orang kesayanganku. Dia menenangkanku selayaknya aku adalah putri dari darah dagingnya sendiri. Aku berterimakasih. Lagi. Entah sudah yang keberapa kali hari ini.
Hujan semakin deras, tapi kemudian ada dua orang yang hendak bermain pingpong. Aku mengusap air mataku sampai mataku perih dengan lengan jaketku. Aku lupa apa pembicaraannya, tapi yang jelas aku sempat bercakap cakap dengan orang-orang yang sedang bermain ping-pong itu. dan aku berpamitan pada mereka karena hujan sudah tinggal rintik-rintik dan aku tidak ingin terjebak macet.
Aku menyusuri jalan yang sebelumnya kulewati. Dan menuju jalan raya dan mencari-cari segala jenis bus yang menuju ke arah blok-m. aku menaiki satu, dan aku kembali menangis di dalam bus. Sesampainya aku di terminal blok-m. ketika aku hendak menaiki bus yang akan menghantarku sampai rumah, aku kembali mencari bayangannya. Aku sempat menemukan satu figur yang sangat mirip dengan figurnya. Aku sempat mengejar figur itu, tapi seperti dalam sebuah film, orang itu tiba-tiba menengok ke arah sampingnya, dan itu bukan raut wajahnya. Aku kembali menarik nafas panjang, menahan tangis yang sudah menyumbat tenggorokan. Dan berjalan untuk mengantri bus.
Di dalam bus, telefon genggamku mengatakan bahwa sms yang kukirim sebelumnya pending, saat ini sudah sampai. Aku lantas menelfonnya. Aku berkata padanya, petualangan kecilku barusan. Petualangan ke daerah yang tidak pernah kudatangi sekalipun, sekalipun aku masih bersamanya.
Ia lantas berteriak
“kamu gila, feli ! kamu buat semua orang panik, karena kamu !!!!!! temen-temenku, mamaku, semuanya kamu bikin panik !!!! kamu gila, kamu tau ?!?!”
aku memang gila, mungkin. Tapi saat itu, itu adalah hal paling logis yang kupikirkan. Aku tidak dapat membalas kata-katanya, karena kalau aku membalasnya, aku akan menangis lagi, dan saat ini aku sedang berada di dalam bus yang penuh orang. Aku membiarkannya mengata-ngataiku, bahwa aku gila, dan aku membiarkannya berteriak di telingaku. Yang aku ingat, aku hanya mengatakan,
“aku hanya ingin memberikan bajumu yang tertinggal dirumahku, supaya tidak ada lagi jejakmu di rumahku”
telefon itu ditutup. Dan aku menunduk dan menangis. Ini benar-benar sudah berakhir. Aku sampai di rumahku, dengan bajuku yang sudah kering kali ketiga, dan segumpulan memori tentangnya yang masih bersarang di kamarku.
Aku tahu aku akan menghadapi masalah sulit, tapi ini benar-benar sudah berakhir. Sampai disini..
Aspirin yang baru saja kutelan telah bekerja. Menendang jauh-jauh semua penyebab sakit kepala. Dan mesin waktu di kepalaku telah membawaku kembali ke tempat semula. Di sini, di tempatku sekarang, dimana aku sudah dapat berdiri sendiri, dan tidak membutuhkan apapun kecuali aspirin untuk mencegah kepalaku menjadi mesin waktu lagi.