inspirasiku datang terlambat hari ini.

inspirasi selalu datang terlambat.

atau hanya aku saja yang selalu terlambat menangkap inspirasi ?

sejenak semuanya hanya terpaku dan tergantung pada satu nama. nama yang mungkin sekarang sedang bersenang-senang tanpa mengingat ke-eksistensianku. mungkin memang aku hanyalah sebuah nama yang sedang menumpang lewat dalam hidupnya. it’s no big deal, right ? lalu kenapa mata ini susah memejam ketika pikiran sebelum tidurku selalu mengarah padanya ?

tidak hanya pikiran sebelum tidur, sih. sejujurnya ada dimana-mana. di setiap jalan yang kulewati, di setiap helai daun di tanah yang menguning, di setiap sudut jalan, dan di setiap batang rokok. hah. betul, batang rokok. aku cukup tersiksa di sini, kawan.

kembalilah, aku juga tidak menginginkan lebih, hanya saja kamu terlalu menggoda. seperti lollypop warna-warni yang tampilan luarnya menggoda tapi rasanya hambar atau bahkan manis – flat. walaupun aku tahu begitu adanya, kamu selalu bisa menggelitik rasa gregetan yang muncul ketika semuanya mungkin sudah hampir mencapai klimaks dan menghilang. aku bersumpah jika aku dapat menggedor pintu rumahmu, kamu sudah kutampar berkali-kali. aku tidak suka orang yang suka lari dari masalah atau waktu atau dari orang lain.

xanax mengatup kelopak mata ini, lagi-lagi diselingi dengan pikiran tentangmu. apa yang harus kulakukan untuk menghapusmu darisana ? jika ada alat pencuci otak, aku akan jadi orang pertama yang berdiri di antrian untuk membeli alat itu. tidak perduli berapa harganya. aku hanya ingin tidak mengingat. apa lebih baik, aku beli saja alat penghapus perasaan ? supaya aku dapat menjadi orang yang paling tidak berperasaan di dunia ini sehingga dapat melepaskan apapun dengan mudah dan mungkin jadi orang paling cool sedunia.

hey para ilmuwan ! selain ciptakan alat untuk teleport, tolong ciptakan juga alat penghapus perasaan !

lebih dari satu orang membutuhkan hal itu !

 

sudahlah, aku hanya ingin tidur dan menunggu pesan dari orang yang tidak akan mungkin menjawab. kamu bertanya, “lalu buat apa menunggu ?”

mungkin aku adalah seorang masokis, atau aku adalah seseorang yang terlalu kuat dalam beromantisme.

dan kuyakinkan, dua-duanya bukan perasaan yang ingin kamu miliki.

One Comment


One Trackback/Pingback

  1. [...] si adik dan para perindu [...]

Post a Comment

*
*