that’s what my friend said.
am I ?
Lalu kenapa semua-semuanya seolah berhenti berjalan ?
sebenarnya berat mengakui hal ini, tapi persetanlah, tidak ada yang mendengar, aku hanya berbicara pada lembaran virtual kosong yang tidak akan ada seorangpun membacanya. Aku kalah. Aku sedih. Aku sakit. Aku benci keadaan ini. tapi tidak seorangpun tahu, karena aku selalu berusaha menyangkal atau aku bahkan berusaha mentertawakan keadaanku.
tapi tidak ada yang berubah, sakit itu tetap ada disana. pisau dapur digunakan hanya untuk memotong, bukan menggores. dan harga tattoo-pun sangat tinggi, itulah karenanya kenapa belum ada tinta hitam tertoreh di atas tanganku.
entah sejak kapan semuanya berbelok ke segala arah sehingga aku tidak dapat mengikutinya satu-satu.
semburatan.
dan semuanya seperti kosong. tidak ada lagi yang kutunggu, tidak ada lagi yang akan menyapa hangat. aku hanya dapat mengecewakan, dan tidak sepantasnya orang menaruh harapan padaku. dan semuanya berubah menjadi kosong… kosong… kosong… tidak ada lagi yang menunggu dan ditunggu.
For some reason I took a wrong turn somewhere
Between black and white.
And now i’m stuck in this location,
Counting the days till I get back home.
and all i could say was just,
i’m doing fine, my ass.
Posted by poetra on October 16, 2008 at 3:54 pm
Tidak ada salahnya berbicara ke lembar virtual kosong. Itu tempat bercerita, tempat mengaktualisasi diri. Ada yang membaca atau tidak itu persoalan lain.
Infact, life is much better if you face your pain all alone. You’ll be just your self
Hidup tidak lebih mudah kalau orang bilang kita baik-baik saja atau tidak. Tidak ada yang tahu dengan pasti apa variabel “baik-baik saja”.
Hukum relatifitas Einstein masih berlaku. Sakit atau tidak, baik atau jelek, tidak ada yang absolut. Kita cuma perlu melihat dari banyak sudut, dan terus mencari sampai menemukan angle yang tepat.
Kalau nanti pencahayaannya sudah kurang baik, cari angle lainnya
But, I’m still here to listen to you. Have you forgot, that I’m a good listener? =)